Mbak Ajeng beli baju sendiri. Maksudnya, ngambil dagangan orang, ibu yang harus bayar belakangan. Baju itu punya Bu Lik, tetangga mbahti yang memang jualan baju, seprai, horden dan sebagainya dengan sistem nyicil. Pas mbahti kasih tahu, ibu langsung ngomel-ngomel.
Pertama, uang ibu sama ayah lagi mepet banget. Kedua, ibu nggak pernah ikut-ikut nyicil begituan. Ketiga, bajunya -menurut ibu- biasa banget dan cenderung ndesit alias ndesonya ndeso. Terusan selutut merah, gambar depannya sablonan Mickey Mouse, pake hiasan dasi sok centil, dan ada ikat pinggangnya warna millenium. Haduh. Nggak. Nggak banget. Kata mbahti, Mbak Ajeng sendiri yang ambil baju itu dan langsung dibawa pulang. Tapi ibu pesan sama mbahti, tolong dibalikin aja.
Besoknya, pas ke rumah mbahti lagi (Mbak Ajeng nyebutnya 'rumah Congkop' karena letaknya di Dusun Congkop, Gedangan. Sekarang udah pindah ke rumah sendiri di Surya Regency, 10 menit dari sana, yang Mbak Ajeng sebut 'rumah Surya'), begitu masuk rumah Mbak Ajeng langsung lari cepat-cepat ke dalam ngambil baju barunya (yang ternyata belum sempat dibalikin mbahti ke Bu Lik). Mbak Ajeng nggak tahu kalau kemarin sore ibu sudah lihat baju itu, dan sudah diceritain mbahti kalau Mbak Ajeng sendiri yang pilih.
"Ibu, aku beli baju," kata Mbak Ajeng pamer, sambil bawa baju itu ke ibu.
Aduh. Ibu tidak akan pernah lupa tatapan mata Mbak Ajeng waktu itu ke ibu. Sorotan bangga bisa pilih baju baru sendiri, dan keyakinan bahwa ibu pasti akan menghargai pilihan Mbak Ajeng. Seperti ibu selalu mengapresiasi keberhasilan-keberhasilan Mbak Ajeng. Seperti ibu selalu terbangga-bangga lihat tulisan 'IBU PIPIT', 'AJENG' (kadang 'AJNEG') atau 'AYAH BUDI' yang Mbak Ajeng tulis pakai pinsil. Seperti ibu selalu takjub lihat Mbak Ajeng bikin pistol atau anjing dari mainan balok. Seperti ibu selalu salut lihat Mbak Ajeng makan sendiri, beresin mainan, nggak ngompol, atau mandi air dingin.
Baju bersablon Mickey Mouse dengan ikat pinggang warna perak itu, tiba-tiba jadi sangat keren di mata ibu."Wow! Bagus sekali. Mbak Ajeng puinter milihnya!" teriak ibu, memuji sepenuh hati.
"Kayak bajunya Mbak Nisa (tetangga di rumah Congkop, teman main Mbak Ajeng), apik," lanjut Mbak Ajeng, senang tahu ibu juga suka baju pilihannya.
Sungguh. Ibu tidak pernah bohong sama Mbak Ajeng. Dan baju cicilan yang harganya 65 ribu itu, di mata ibu memang benar-benar terlihat bagus, waktu Mbak Ajeng pamerin ke ibu. Lain dengan waktu pertama kali ibu lihat terlipat di meja sambil dengar cerita mbahti. Lain. Lain sekali.
Tampilkan postingan dengan label pintar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pintar. Tampilkan semua postingan
18 Agustus 2009
19 Mei 2009
Waktu Ibu Punya Uang
"Ibu, ibu, aku mau termos Barbie yang ada talinya, kayak Mbak Arfa (teman sekolah Mbak Ajeng)," gitu kata Mbak Ajeng, Minggu kemarin.
Dulu termosnya gambar Pooh. Sekarang mintanya yang Barbie. Ibu janji beliin kalau nanti ibu libur dan ada uang. Sekalian hadiah, bulan Juli besok kan Mbak Ajeng memang sudah TK A. Waktunya ganti termos kecil tempat minumnya. Kemarin, Senin, otw nganterin Mbak Ajeng sekolah, Mbak Ajeng tanya, "Ibu nanti kerja?"
"Enggak, ibu libur," kata ibu.
"Ibu libur? Ada uangnya?"
Hahaha! Antara kaget, senang, haru dengar pertanyaan Mbak Ajeng, ibu jawab antusias, "Ada tapi ndak banyak. Kenapa?"
"Aku mau beli termos," jawab Mbak Ajeng gitu, ngingetin janji ibu.
"Let's go. Tapi nanti kalau pulang sekolah."
Kemarin akhirnya beli termos Barbie yang bagus seperti Mbak Ajeng mau. Masuk rumah langsung dicuci, diisi air putih, dan airnya diminum-minum terus sama Mbak Ajeng. Ayah sampai takut Mbak Ajeng muntah kekenyangan karena barusan makan buanyak juga.
10 Oktober 2008
Ayah Punya Penis
Ibu tahu, orang-orang yang lebih tua mungkin risi dengar kata penis dan vagina. Biasanya, pada anak, diajarkan kata lain sebagai pengganti. Yang paling populer tentu saja burung untuk penis. Tapi ibu dan ayah tidak anggap penis dan vagina sebagai bahasa kasar atau kotor. Memang itulah namanya. Kalau penis disebut kxxxxl, baru kasar.
Ibu tidak bisa 24 jam sehari dengan Mbak Ajeng. Di waktu yang ada itu, ibu ingin bisa ajarkan Mbak Ajeng sesuatu yang sebenar-benarnya. Soal apa saja. Makanya ibu tidak pernah berbohong sama Mbak Ajeng. Ibu ingin Mbak Ajeng tahu tentang alat kelamin pertama kali ya dari ibu sendiri. Bukan dari guru di sekolah. Bukan dari buku pelajaran. Apalagi dari teman.
Ibu juga selalu pesan, vagina tidak boleh dipegang-pegang karena kotor. Jadi jangan dipegangi kecuali waktu dibersihkan selesai pipis. Juga tidak boleh dipegang sama orang lain. Mbak Ajeng harus cerita ke ibu kalau ada yang berani pegang-pegang. Beberapa tahun lagi, pasti ibu jelaskan lebih panjang tentang perbedaan penis dan vagina, serta kenapa tidak boleh dipegang-pegang.
28 Agustus 2008
Ibu Kerja Dua Kali
Mbak Ajeng bingung, kenapa ibu kadang pergi kerja dua kali sehari, padahal ayah cuma satu kali. Ayah berangkat pagi, pulang sore. Tidak pernah kayak ibu yang kadang pergi pagi, lalu tiba-tiba pulang sebentar, dan tiba-tiba pergi lagi.
"Ibu kok sudah pulang?" Mbak Ajeng tanya begitu sama ibu tadi siang, heran lihat ibu sudah balik padahal belum malam.
"Iya, ibu tadi liputan," ibu jawab. Acaranya selesai jam 10.00. Ibu malas dong langsung ngantor. Ngapain. Mending pulang main sama Mbak Ajeng dulu.
"Ibu sudah kerja?"
"Iya, liputan itu juga kerja."
"Ada Pak Leak (bosnya ibu)?"
"Ndak ada, Pak Leak di kantor."
"Ibu tadi kerja di mana?"
"Ibu liputan ke Unipa, di belakang Cito."
"Sudah ketik-ketik?"
"Belum, nanti sore."
"Nanti ibu kerja lagi?"
"Iya."
"Ketik-ketik?"
"Iya. Tadi ibu liputan thok, belum diketik beritanya."
Trus ibu jelasin ulang, tadi itu ibu bukan ke kantor. Ibu liputan di belakang Cito. Ketemu temannya ibu (narasumber) dan ngobrol. Ibu tanya-tanya, jawaban teman ibu itu ibu tulis di buku. Biar ndak lupa kalau nanti mau ketik. "Ibu ojo lama-lama ngetiknya," pesan Mbak Ajeng.
"Ibu kok sudah pulang?" Mbak Ajeng tanya begitu sama ibu tadi siang, heran lihat ibu sudah balik padahal belum malam.
"Iya, ibu tadi liputan," ibu jawab. Acaranya selesai jam 10.00. Ibu malas dong langsung ngantor. Ngapain. Mending pulang main sama Mbak Ajeng dulu.
"Ibu sudah kerja?"
"Iya, liputan itu juga kerja."
"Ada Pak Leak (bosnya ibu)?"
"Ndak ada, Pak Leak di kantor."
"Ibu tadi kerja di mana?"
"Ibu liputan ke Unipa, di belakang Cito."
"Sudah ketik-ketik?"
"Belum, nanti sore."
"Nanti ibu kerja lagi?"
"Iya."
"Ketik-ketik?"
"Iya. Tadi ibu liputan thok, belum diketik beritanya."
Trus ibu jelasin ulang, tadi itu ibu bukan ke kantor. Ibu liputan di belakang Cito. Ketemu temannya ibu (narasumber) dan ngobrol. Ibu tanya-tanya, jawaban teman ibu itu ibu tulis di buku. Biar ndak lupa kalau nanti mau ketik. "Ibu ojo lama-lama ngetiknya," pesan Mbak Ajeng.
17 Agustus 2008
Ajeng Lupa
Jumat (15/8) lalu ada karnaval di sekolah Mbak Ajeng. Teman-teman Mbak Ajeng yang di kelas Smile dan biasanya masuk Sabtu, ikut datang hari Jumat. Ramai deh kelasnya. Trus waktu Mbak Ajeng lagi rewel takut ditinggal ibu, ada Mas Zydan yang biasanya suka pukul-pukulan itu. Tau-tau Mbak Ajeng dipukul. Ibu belum sempat lerai, Mbak Ajeng sudah refleks balik mukul. Di rumah kemarin Mbak Ajeng ingat tentang kejadian itu.
"Aku lupa ndak 'Kuaat!!'," kata Mbak Ajeng, sambil tangan kiri-kanan diangkat seperti olahragawan sedang pamer otot. Wajah Mbak Ajeng kelihatan kecewa. Ibu bilang tidak papa, nanti kalau seperti itu lagi Mbak Ajeng bisa bilang 'Kuaat!!'.
Sejak kecil Ibu dan Ayah selalu ngajarin Ajeng tentang 'Kuaat!!' ini. Kalau lari-lari trus jatuh, atau kepalanya Mbak Ajeng kebentur kursi, Ibu ndak pernah pukul kursinya, apalagi nginjak tanahnya kuat-kuat. Kan ada orangtua yang sering nyalahin tanah, kursi atau benda-benda lain yang bikin anaknya merasa sakit sampai menangis.
Menurut Ibu itu sama sekali nggak mengajarkan tentang tanggung jawab. Kalau sakit karena jatuh, ya kan karena Mbak Ajeng memang lari-lari atau nggak hati-hati. Masa Ibu mau bilang yang salah tanahnya, lalu Ibu harus pukul tanahnya itu? Lagian ini juga sama saja ngajarin Mbak Ajeng main kasar. Nanti kalau ada apa-apa, atau kapan-kapan merasakan sakit, marah, jengkel dan sebagainya, Mbak Ajeng jadi main pukul. Karena itu kan yang diajarkan?
Gantinya, kalau Mbak Ajeng merasa sakit, Ibu langsung bilang dengan nada supersemangat: "Kuaatt!!" sambil ibu angkat tangan bergaya seolah-olah olahragawan. Dan setelah itu Mbak Ajeng jadi tidak nangis, atau batal menangis. Tersugesti oleh keyakinan Ibu. Merasa memang kuat dan sakit seperti itu tidak apa-apa.
"Aku lupa ndak 'Kuaat!!'," kata Mbak Ajeng, sambil tangan kiri-kanan diangkat seperti olahragawan sedang pamer otot. Wajah Mbak Ajeng kelihatan kecewa. Ibu bilang tidak papa, nanti kalau seperti itu lagi Mbak Ajeng bisa bilang 'Kuaat!!'.
Sejak kecil Ibu dan Ayah selalu ngajarin Ajeng tentang 'Kuaat!!' ini. Kalau lari-lari trus jatuh, atau kepalanya Mbak Ajeng kebentur kursi, Ibu ndak pernah pukul kursinya, apalagi nginjak tanahnya kuat-kuat. Kan ada orangtua yang sering nyalahin tanah, kursi atau benda-benda lain yang bikin anaknya merasa sakit sampai menangis.
Menurut Ibu itu sama sekali nggak mengajarkan tentang tanggung jawab. Kalau sakit karena jatuh, ya kan karena Mbak Ajeng memang lari-lari atau nggak hati-hati. Masa Ibu mau bilang yang salah tanahnya, lalu Ibu harus pukul tanahnya itu? Lagian ini juga sama saja ngajarin Mbak Ajeng main kasar. Nanti kalau ada apa-apa, atau kapan-kapan merasakan sakit, marah, jengkel dan sebagainya, Mbak Ajeng jadi main pukul. Karena itu kan yang diajarkan?
Gantinya, kalau Mbak Ajeng merasa sakit, Ibu langsung bilang dengan nada supersemangat: "Kuaatt!!" sambil ibu angkat tangan bergaya seolah-olah olahragawan. Dan setelah itu Mbak Ajeng jadi tidak nangis, atau batal menangis. Tersugesti oleh keyakinan Ibu. Merasa memang kuat dan sakit seperti itu tidak apa-apa.
16 Agustus 2008
Nama-Nama Rasa
Mbak Ajeng suka menyanyi. Ibu tidak. Tapi Ibu senang ajarin Mbak Ajeng menyanyi. Masalahnya, Ibu ndak suka menyanyi yang begitu-begitu saja. Ibu ajarin Mbak Ajeng ganti lirik dengan kalimat-kalimatnya sendiri. Nadanya sama, liriknya beda. Kadang yang dengar bilang Ajeng ngawur. Ibu malah puji Mbak Ajeng pintar dan kreatif.
Liriknya bisa tentang apa yang terjadi tadi malam, yang Mbak Ajeng lihat pas menyanyi, yang kebetulan Mbak Ajeng ingat, atau yang salah satu kata dalam lirik lagu aslinya sama dengan sesuatu yang lain yang Ajeng sukai.
Lagu favorit Ibu yang judulnya Nama-Nama Rasa. Ibu senang dengar Ajeng nyanyiin ini. Dulu kan liriknya begini: "Siapa tau apa rasa gula? Manis manis manis, itu rasanya..." Sekarang diganti begini: "Siapa tau apa rasa gula? Manis manis manis, seperti ibu..."
Ibu heran. Kenapa sih yang dengar suka protes?
Liriknya bisa tentang apa yang terjadi tadi malam, yang Mbak Ajeng lihat pas menyanyi, yang kebetulan Mbak Ajeng ingat, atau yang salah satu kata dalam lirik lagu aslinya sama dengan sesuatu yang lain yang Ajeng sukai.
Lagu favorit Ibu yang judulnya Nama-Nama Rasa. Ibu senang dengar Ajeng nyanyiin ini. Dulu kan liriknya begini: "Siapa tau apa rasa gula? Manis manis manis, itu rasanya..." Sekarang diganti begini: "Siapa tau apa rasa gula? Manis manis manis, seperti ibu..."
Ibu heran. Kenapa sih yang dengar suka protes?
13 Agustus 2008
Ibu Teja Sole
Dulu Ajeng gampang ditinggal kerja. Nggak pakai nangis atau merajuk. Kalau dipamiti, langsung salim ibu trus bilang "Ibu teja (kerja), anak tecil (kecil) ndak itut (ikut), nanti mala (marah) bosnya ibu." Sekarang? Huah susahnya. Harus kucing-kucingan dulu. Ini gara-gara November lalu ibu bawa Ajeng ke kantor, karena pulangnya mau ke rumah Adek Diaz yang lokasinya dekat kantor. Jadi pulangnya dijemput ayah dan langsung ke sana.
Setelah itu Ajeng kayaknya tahu, alasan "Anak kecil tidak boleh ikut kerja" pasti bukan "Nanti bosnya ibu marah." Karena toh selama di kantor, dia justru disambut hangat oleh bos-bos itu. Hiks. Ibu salah kasih alasan berarti.
Ibu sebenarnya sama sekali nggak niat bohong sama Ajeng. Bohong malah hal yang paling ibu haramin. Mungkin alasannya itu yang kurang jelas untuk Ajeng. Maksud ibu, kalau Ajeng ikut kan ibu jadi nggak bisa fokus kerja, trus nanti kalau editan ada yang salah, bisa kena marah bos.
Waktu merencanakan Ajeng akan ikut ke kantor pertama kali itu, malamnya ibu ngelembur bikin boks dan berita-berita ringan sebagai cicilan kerjaan besok. Biar kalau ada Ajeng, hanya perlu garap HL dan 2 berita lain.
Sejak itu Ajeng selalu nangis kalau ibu berangkat kerja. Kalau lihat ibu ganti baju, langsung bilang, "Ibu ndak teja. Ibu teja sole (sore)." Padahal itu memang sudah sore.
*Ini cerita waktu Mbak Ajeng masih umur dua tahunan. Belum selesai sebenarnya. Tapi tulisannya putus sampai di situ waktu itu. Ibu lupa kapan tepatnya nulis ini.
Setelah itu Ajeng kayaknya tahu, alasan "Anak kecil tidak boleh ikut kerja" pasti bukan "Nanti bosnya ibu marah." Karena toh selama di kantor, dia justru disambut hangat oleh bos-bos itu. Hiks. Ibu salah kasih alasan berarti.
Ibu sebenarnya sama sekali nggak niat bohong sama Ajeng. Bohong malah hal yang paling ibu haramin. Mungkin alasannya itu yang kurang jelas untuk Ajeng. Maksud ibu, kalau Ajeng ikut kan ibu jadi nggak bisa fokus kerja, trus nanti kalau editan ada yang salah, bisa kena marah bos.
Waktu merencanakan Ajeng akan ikut ke kantor pertama kali itu, malamnya ibu ngelembur bikin boks dan berita-berita ringan sebagai cicilan kerjaan besok. Biar kalau ada Ajeng, hanya perlu garap HL dan 2 berita lain.
Sejak itu Ajeng selalu nangis kalau ibu berangkat kerja. Kalau lihat ibu ganti baju, langsung bilang, "Ibu ndak teja. Ibu teja sole (sore)." Padahal itu memang sudah sore.
*Ini cerita waktu Mbak Ajeng masih umur dua tahunan. Belum selesai sebenarnya. Tapi tulisannya putus sampai di situ waktu itu. Ibu lupa kapan tepatnya nulis ini.
Langganan:
Postingan (Atom)
